Jumat, 21 Desember 2012

Pembenihan Ikan Tuna Sirip Kuning (Thunnus albacares)

Pembenihan Ikan Tuna Sirip Kuning (Thunnus albacares)
     Ikan tuna merupakan salah satu ikan ekonomis penting di dunia dengan harga yang relatif tinggi. Permintaan dunia akan ikan ini terus meningkat terutama untuk tujuan Jepang sehingga aktifitas penangkapan terus meningkat.
     Dampak dari penangkapan ini mulai terlihat dengan terjadinya penurunan hasil tangkapan dan bahkan penurunan bobot per ekor ikan yang tertangkap. Ini merupakan salah satu indikasi telah terjadinya penurunan populasi tuna di alam oleh akibat lebih tangkap. Sementara teknologi perbenihan belum berkembang. Jepang sebagai pioneer dalam perbenihan ikan tuna baru berhasil dalam penelitian skala laboratorium.
Pemerintah Jepang berpendapat bahwa Indonesia bertanggung jawab atas kelangsungan perikanan tuna dunia karena Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor ikan tuna terbesar dunia. Untuk itu perlu dilakukan studi tentang perbenihan ikan tuna di wilayah perairan tropis.
Tahun 2001, pemerintah Indonesia Jepang sepakat menandatangani perjanjian kerjasama riset dalam bentuk Proyek Riset Perbenihan ikan tuna sirip kuning (T. albacares) yang dilaksanakan di Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut, Gondol, Bali. Pada tahun 2003, proyek kerjasama ini telah berhasil dalam mengembangkan teknik penangkapan, transportasi dan aklimasi calon induk. ikan tuna. Keberhasilan ini diikuti dengan pengembangan teknik pembesaran dan pemijahan induk ikan tuna sirip kuning.

PENGELOLAAN CALON INDUK
•    Transportasi Calon Induk
     Transportasi ikan tuna yang tertangkap dilakukan dengan menggunakan bak fiberglas oval vol. 1 m3. Dengan menggunakan bak ini hanya 2-3 ekor ikan berukuran 2 kg atau satu ekor untuk ikan berukuran 3-5 kg yang dapat ditransportasikan dalam satu trip.
•    Pengobatan
    Ikan-ikan yang berhasil ditansportasikan ditempatkan dalam bak pengobatan untuk dilakukan pengobatan dan observasi kondisi kesehatan ikan selama 24 jam. Pengobatan dilakukan dengan perendaman menggunakan Sodium Nifurstirenate (Na-NFS) yang lebih dikenal dengan nama dagang Erubazu sebesar 10 - 20 ppm selama 2 jam. Ikan-ikan yang sehat ditransfer ke bak aklimasi dengan menggunakan kantong plastik setelah terlebih dahulu dilakukan pengukuran panjang cagak, memasukkan tagging dan pemotongan finlet untuk keperluan analisa genetik.
•    Aklimasi
     Calon induk yang masih berukuran antara 2-3 kg tersebut dipelihara dalam bak beton bervolume 150 m3 ( ø 8m kedalaman 3m) dalam beberapa bulan untuk observasi pertumbuhan dan kesehatan ikan sehingga ikan yang dipindah ke dalam bak induk sudah benar-benar sehat dan teraklimasi. Selama dalam bak aklimasi, ikan diberi pakan satu kali sehari dari Senin-Sabtu dan pada hari Minggu tidak diberi pakan. Pakan yang diberikan berupa ikan layang dan cumi-cumi sebesar 10-20 % biomas. Untuk menjaga kesehatan ikan, diberikan tambahan vitamin kompleks sebesar 15 g/kg pakan atau 0.4 g/kg bobot ikan dalam bentuk kapsul. Pertumbuhan harian rata-rata ikan yang dipelihara dalam bak aklimasi adalah 50 g/hari. Hal ini masih bisa ditingkatkan jika tujuannya untuk budidaya.
PEMELIHARAAN INDUK
Ikan-ikan dari bak aklimasi yang telah terseleksi dan mencapai bobot rata-rata 3 kg dipindahkan ke bak induk bervolume 1500 ton (ø 18m, kedalaman 6m) untuk selanjutnya dijadikan induk. Semua ikan telah diberi tagging sehingga setiap ikan dapat didata dan akan berguna untuk pendugaan kualitas genetik setelah memijah melalui analisa genetik.
     Calon induk ikan tuna diberi pakan satu kali sehari dari Senin-Sabtu dan pada hari Minggu tidak diberi pakan. Pakan yang diberikan berupa ikan layang dan cumi-cumi sebesar 5-10 % biomas. Untuk menjaga kesehatan ikan, mempercepat pematangan gonad, diberikan tambahan vitamin kompleks sebesar 0.06, Vitamin C 3.75 dan vitamin E 0.03g/kg bobot induk. Vitamin kompleks dan Vitamin C diberikan setiap hari sementara vitamin E setiap dua hari.
Pertumbuhan ikan yang dipelihara dalam bak induk dipertahankan semirip mungkin dengan pertumbuhan ikan tuna di alam sehingga tidak mengalami kegemukan.
     Berbeda dengan jenis ikan-ikan laut lainnya yang dapat disampling setiap bulan untuk melihat pertumbuhan atau tingkat kematangan gonad. Ikan tuna sebagai ikan perenang cepat dengan kulit yang sangat sensitif terhadap penanganan, sulit dilakukan sampling sehingga data pertumbuhan hanya dapat diperoleh jika ada ikan yang mati. Kematian yang sering terjadi adalah akibat menabrak dinding bak dalam kondisi ikan yang sehat sehingga data yang didapat sangat akurat.
     Berdasarkan data tersebut diperoleh dugaan pertumbuhan harian sebesar 30 -70 g/hari. Setelah satu tahun pemeliharaan, beberapa ikan telah mencapai matang gonad dan memijah. Diperkirakan ada 10 ekor ikan telah berumur 3 tahun. Pemijahan pertama terjadi pada bulan Oktober 2004 selama 10 hari berturut-turut, namun setelah itu belum pernah memijah kembali.
Pemberian hormon LHRH dengan metode Oral Administration sudah dilakukan sebanyak 3x dengan dosis 500mg/kg ikan dengan tujuan memacu kematangan gonad.
Pengelolaan Air Pemeliharaan
     Dalam pemeliharaan ikan tuna dalam bak terkontrol, kualitas air memegang peranan yang sangat penting baik tingkat kandungan oksigen, pH air, dan kandungan kimia lainnya serta tingkat kecerahan air.
Untuk menjaga kondisi air tetap bagus, diperlukan satu paket suplai air yaitu pompa air laut, saringan pasir, tandon penampungan air, pipa saluran air ke setiap bak, biofilter. Dengan menggunakan sistem ini, pengelolaan air menjadi sistem semi tertutup (50 % resirkulasi) dan fluktuasi parameter air tidak terlalu besar. Pengukuran parameter kualitas air terutama Oksigen, pH dan salinitas dilakukan setiap hari sehingga jika terjadi perubahan yang drastis dapat dilakukan tindakan awal.
Untuk menambah suplai oksigen kedalam air digunakan ring blower 2.2 KW untuk bak aklimasi dan 3.7 KW untuk bak induk. Pembersihan dinding dan dasar bak dilakukan setiap dua bulan.
Pemijahan
     Pemijahan terjadi secara alami antara pagi hingga malam hari dan telur terkumpul dalam bak pemanenan yang telah dilengkapi dengan jaring. Telur dapat dipanen 2 jam setelah memijah dan selanjutnya di inkubasi dalam bak fiberglass 5001. Telur menetas setelah 24 jam inkubasi.
PEMELIHARAAN LARVA
     Larva baru menetas mempunyai morfologi yang hampir sama dengan larva ikan laut pada umumnya. Mata belum berfungsi demikian juga dengan mulut dan anus. Pemeliharaan larva hampir sama dengan larva ikan laut pada umumnya hanya berbeda pada regim pakan. Pengelolaan lingkungan pemeliharaan larva dilakukan dengan pemberian Nannochloropsis sp, Dengan kepadatan 0.5 x 106 sel/ml dengan system pergantian air secara terus-menerus.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar